Uncategorized

Menjaga Arah Bangsa, Merawat Persatuan: Pesan Mencerahkan dari Haedar Nashir dalam Silaturahim Idulfitri 1447 H

Suara Menyejukkan di Tengah Dinamika Bangsa

Di tengah dinamika kebangsaan yang kerap diuji oleh perbedaan, suara yang menyejukkan sekaligus menuntun arah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Dalam momentum Silaturahim Idulfitri 1447 H, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menghadirkan pesan yang bukan hanya menenangkan, tetapi juga mencerahkan: bahwa menjaga arah bangsa Indonesia dan merawat persatuan adalah kerja panjang yang harus terus dipupuk dengan kesadaran kolektif.

Acara ini dilaksanakan pada 31 Maret 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan Muhammadiyah dari tingkat pusat hingga Ranting, meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Turut hadir Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, serta Rektor UMJ, Ma’mun Murod Al-Barbasy. Kehadiran juga diperkuat oleh unsur legislatif, yudikatif, dan eksekutif yang berasal dari kader Muhammadiyah, menandakan kuatnya jejaring kontribusi Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa.


Muhammadiyah: Ngayomi dan Mengoreksi dengan Bijak

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia, menegaskan kembali perannya bukan sekadar sebagai gerakan dakwah, tetapi juga sebagai penyangga moral bangsa. Dalam sejarah panjangnya, Muhammadiyah hadir dengan watak ngayomi—melindungi, membina, sekaligus mengoreksi.

Kritik yang disampaikan bukanlah kritik yang meruntuhkan, melainkan kritik konstruktif yang bertujuan memperbaiki arah kebijakan dan menjaga agar negara tetap berjalan di rel keadilan dan kemaslahatan. Di sinilah Muhammadiyah mengambil posisi: tidak menjadi oposisi yang bising, tetapi juga tidak menjadi pendukung yang membisu.


KHGT: Ikhtiar Peradaban Menuju Kesatuan Waktu

Pesan penting yang mengemuka adalah tentang langkah Muhammadiyah dalam menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) untuk penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Ini bukan sekadar pilihan teknis, tetapi sebuah visi besar peradaban Islam: menyatukan umat dalam satu sistem waktu yang ilmiah dan global.

Namun Muhammadiyah tidak memaksakan. KHGT terus ditawarkan melalui dialog yang terbuka, ilmiah, dan penuh penghormatan terhadap perbedaan pendekatan.


Mengapa Perbedaan Idulfitri Masih Terjadi?

Pertanyaan klasik yang terus berulang setiap tahun: mengapa Muhammadiyah sering berbeda dengan pemerintah dalam menetapkan hari raya?

Jawabannya mendasar—karena belum adanya kesepakatan penggunaan kalender global tunggal. Selama pendekatan yang digunakan masih berbeda, baik hisab dengan kriteria global maupun rukyat dengan pendekatan nasional, maka perbedaan itu akan terus terjadi.

Masalahnya bukan pada siapa yang benar atau salah, tetapi pada sistem yang belum disatukan.


Etika Perbedaan: Saling Menghalalkan, Bukan Mengharamkan

Dalam nada yang tegas namun bijak, Haedar Nashir mengingatkan bahwa dalam beragama, kita perlu saling menghalalkan—bukan saling mengharamkan.

Perbedaan ijtihad adalah keniscayaan dalam Islam. Yang dibutuhkan adalah kelapangan dada, bukan penghakiman. Ketika ruang perbedaan disikapi dengan kedewasaan, maka ia akan menjadi rahmat. Namun jika disikapi dengan ego dan klaim kebenaran sepihak, maka ia berubah menjadi sumber perpecahan.


Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan

Lebih jauh, pesan ini mengandung makna strategis bagi kehidupan berbangsa. Muhammadiyah menunjukkan bahwa keislaman dan keindonesiaan tidak perlu dipertentangkan—justru harus dipadukan dalam satu tarikan napas peradaban.

Di tengah tantangan global, polarisasi sosial, dan tekanan ekonomi, bangsa ini membutuhkan lebih banyak suara yang meneduhkan sekaligus meneguhkan arah. Muhammadiyah hadir sebagai kekuatan moral yang menjaga keseimbangan tersebut.


Silaturahim sebagai Momentum Refleksi Bangsa

Silaturahim Idulfitri bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang refleksi: apakah kita semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan, atau justru semakin mudah terpecah oleh hal-hal yang seharusnya bisa dikelola dengan bijak?

Pesan Muhammadiyah menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bukan pekerjaan sesaat, melainkan ikhtiar yang terus menerus. Dan dalam ikhtiar itu, dialog, ilmu, serta kelapangan hati adalah fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts