Uncategorized

KH Masduki Baidowi: Dakwah Televisi di Era AI Harus Mampu Lawan Bias Algoritma

JAKARTA — Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Masduki Baidowi, menegaskan bahwa transformasi produksi dan peliputan dakwah televisi di era digital harus dibangun dengan sikap kritis, etis, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.

Hal itu disampaikan KH Masduki dalam Seminar Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat bertema “Transformasi Produksi dan Peliputan Dakwah Televisi di Era Digital melalui Pemanfaatan Artificial Intelligence” yang digelar di Hotel Millennium Sirih, Jakarta, Sabtu (8/3/2026).

Dalam forum tersebut, Masduki mengingatkan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam dunia media dan dakwah tidak dapat dihindari. Namun, perkembangan teknologi itu juga membawa konsekuensi serius, terutama terkait bias algoritma yang dapat memengaruhi cara masyarakat memahami informasi.

Tantangan Baru di Ruang Digital

Menurut Masduki, ruang digital saat ini tidak lagi sekadar menjadi saluran penyebaran informasi, melainkan telah menjadi arena pembentukan cara pandang, opini, bahkan sikap keagamaan masyarakat. Karena itu, dakwah televisi dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa kehilangan tanggung jawab moralnya.

Ia menilai, AI memang membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas produksi, percepatan distribusi konten, hingga perluasan jangkauan dakwah. Namun di saat yang sama, teknologi juga dapat memperkuat distorsi informasi bila tidak digunakan secara hati-hati.

“Di era digital, masyarakat berhadapan dengan banjir informasi yang tidak selalu netral. Ada algoritma yang bekerja, ada kepentingan yang bermain, dan ada kecenderungan orang hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangannya sendiri,” demikian substansi yang ditekankan dalam sambutan tersebut.

Waspada Echo Chamber

Masduki secara khusus menyoroti fenomena echo chamber, yakni kondisi ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang sejalan dengan preferensi dan keyakinannya, tanpa cukup ruang untuk melihat perspektif yang lebih luas.

Kondisi itu, kata dia, berbahaya karena dapat membuat masyarakat merasa paling benar berdasarkan arus informasi yang sesungguhnya sempit dan berulang. Dalam jangka panjang, situasi semacam ini tidak hanya memicu salah paham, tetapi juga dapat memperbesar penyebaran hoaks, polarisasi, dan ketegangan sosial.

Karena itu, ia menekankan bahwa masyarakat tidak boleh menyerahkan sepenuhnya cara berpikir kepada mesin dan algoritma. Teknologi harus dikendalikan oleh nilai, akal sehat, dan tanggung jawab bersama.

Cross Check Jadi Kunci

Dalam konteks itu, Masduki menempatkan cross check atau verifikasi sebagai langkah mendasar yang harus dikedepankan di tengah derasnya arus konten digital. Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu membangun kebiasaan memeriksa sumber informasi, membandingkan berbagai rujukan, dan menelusuri validitas sebuah kabar sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Langkah tersebut dinilai semakin penting karena AI kini mampu menghasilkan teks, gambar, audio, hingga video yang tampak meyakinkan, meskipun belum tentu benar. Tanpa budaya verifikasi, masyarakat akan semakin mudah tertipu oleh informasi palsu yang dikemas secara canggih.

Bagi Masduki, kecakapan digital pada akhirnya bukan hanya soal kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan membaca realitas informasi secara jernih dan bertanggung jawab.

Menegakkan Etika Digital

Selain verifikasi, Masduki juga menyoroti pentingnya digital ethic atau etika digital. Menurut dia, ruang digital tidak boleh menjadi wilayah bebas nilai. Terlebih dalam konteks dakwah, penggunaan teknologi harus tetap berpijak pada prinsip kejujuran, adab, tanggung jawab, dan orientasi kemaslahatan.

Ia mengingatkan bahwa dakwah yang masuk ke ruang digital tidak boleh berubah menjadi alat provokasi, manipulasi, ataupun penggiringan opini yang justru menjauh dari misi utama agama. Dakwah harus tetap menjadi sumber pencerahan, peneguhan moral, dan penguatan kehidupan sosial yang sehat.

Keamanan Digital dan Kepentingan Bangsa

Masduki juga menekankan pentingnya digital safety atau keamanan digital sebagai bagian dari literasi publik. Ia menilai masyarakat harus memahami risiko-risiko yang muncul di ruang digital, mulai dari penipuan informasi, penyalahgunaan data, hingga eksploitasi teknologi untuk kepentingan yang merusak.

Dalam pandangannya, AI tidak boleh digunakan untuk mengancam negara, merusak persatuan, atau melemahkan kehidupan kebangsaan. Sebaliknya, teknologi harus diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial, memperluas manfaat pengetahuan, dan mendukung pembangunan peradaban yang sehat.

Membangun Budaya Digital yang Bernilai

Lebih jauh, Masduki menegaskan pentingnya membangun digital culture atau budaya digital yang sehat dan berakar pada nilai. Menurut dia, agama tidak boleh tertinggal dalam arus perkembangan teknologi. Nilai-nilai keagamaan justru harus ikut hadir dalam pembentukan ekosistem AI agar teknologi tidak tumbuh dalam ruang yang kering secara moral.

Ia berpandangan bahwa keterlibatan nilai agama dalam pengembangan AI penting agar teknologi tidak hanya canggih dalam sistem, tetapi juga memiliki arah yang benar dalam penggunaannya. Dengan demikian, transformasi digital tidak mengikis nilai, melainkan memperkuat peradaban yang beradab.

Umat Harus Jadi Subjek AI

Dalam sambutannya, Masduki juga mengajak umat Islam dan masyarakat Indonesia untuk tidak berhenti sebagai pengguna pasif teknologi. Menurut dia, bangsa ini harus mampu menjadi subjek dalam perkembangan AI, bukan hanya objek pasar, sasaran algoritma, atau konsumen dari teknologi yang dirancang pihak lain.

Ajakan tersebut menjadi penegasan bahwa pelaku media, pendakwah, akademisi, peneliti, dan pengembang teknologi nasional perlu mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah pemanfaatan AI. Teknologi, kata dia, harus dikelola untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan memperkuat nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta kemanusiaan.

Momentum Penguatan Dakwah Digital

Seminar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran bahwa transformasi produksi dan peliputan dakwah televisi di era AI tidak cukup ditempuh melalui pendekatan teknis semata. Yang dibutuhkan adalah integrasi antara inovasi teknologi, literasi publik, etika digital, keamanan, dan visi kebudayaan.

Melalui pendekatan semacam itu, dakwah televisi diharapkan tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi juga tampil sebagai kekuatan moral yang membantu masyarakat memilah informasi, melawan hoaks, dan menjaga ruang digital tetap sehat.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts