Uncategorized

Saatnya Revolusi Batin

Tarhib Ramadhan PDM Jakarta Barat di Masjid Al Isro mengingatkan bahwa krisis bangsa berakar pada rapuhnya integritas—dari pembersihan hati, pelurusan niat, hingga etos karya.


Krisis terbesar bangsa ini bukan kekurangan sumber daya, melainkan menipisnya kejujuran, rapuhnya keteladanan, dan kaburnya arah pengabdian. Korupsi yang berulang, polarisasi yang tak kunjung reda, serta budaya pragmatis yang menguat menunjukkan bahwa persoalan utama Indonesia sesungguhnya berada di wilayah batin: hati yang tidak lagi jernih. Dalam konteks itulah Tarhib Ramadhan 1447 H yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat pada 14 Februari 2026 di Masjid Al Isro menemukan momentumnya—mengembalikan puasa sebagai gerakan pembersihan moral untuk menguatkan negeri.

Ramadhan dan Agenda Perubahan

Ramadhan selalu datang dengan dua wajah: spiritual dan sosial. Ia adalah ibadah yang paling personal, sekaligus memiliki daya ubah yang paling publik. Karena itu, menyambutnya tidak cukup dengan seremoni dan spanduk ucapan. Ramadhan menuntut kesungguhan batin—sebab dari sanalah kualitas kehidupan bersama ditentukan.

Kegiatan yang dihadiri unsur pimpinan, kader, dan partisipan Muhammadiyah se-Jakarta Barat itu bukan sekadar forum rutin tahunan, melainkan ruang konsolidasi nilai—tempat spiritualitas, gerakan, dan tanggung jawab kebangsaan dipertemukan.

Membersihkan Hati sebagai Fondasi Bangsa

Mengangkat tema “Bersihkan Hati, Kuatkan Negeri,” Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Buya Dr. Amirsyah Tambunan, menegaskan bahwa pembersihan hati harus dimaknai secara autentik, bukan sebagai ungkapan seremonial.

Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi dan kekuatan ekonomi, tetapi manusia-manusia yang memiliki integritas. Puasa diarahkan untuk melahirkan takwa—dan takwa menjelma dalam kejujuran di ruang publik, keadilan dalam kekuasaan, serta tanggung jawab sosial.

Meluruskan Niat dalam Gerakan Muhammadiyah

Ketua PDM Jakarta Barat, Dr. Narmodo, membawa pesan itu lebih dekat ke dalam kehidupan persyarikatan. Ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah Jakarta untuk meluruskan niat dalam setiap langkah hidup, termasuk dalam bermuhammadiyah.

Organisasi yang besar, tanpa keikhlasan, hanya akan menjadi struktur. Program berubah menjadi rutinitas. Amal usaha kehilangan ruh pengabdian. Meluruskan niat berarti mengembalikan seluruh aktivitas sebagai ibadah—bekerja sebagai pengabdian dan berorganisasi sebagai jalan mencari ridha Allah.

Puasa dan Etos Produktivitas

Pesan yang melengkapi datang dari Ketua PWM DKI Jakarta, Ramilan, MM, yang mengingatkan bahwa puasa tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk menurunkan aktivitas. Ramadhan justru harus menjadi bulan karya.

Puasa bukan pelemah, tetapi pendisiplin. Ia merapikan waktu, menajamkan fokus, dan menguatkan daya tahan batin. Sejarah mencatat, peristiwa-peristiwa besar justru lahir di bulan Ramadhan.

Konsolidasi Nilai dan Kekuatan Kolektif

Kehadiran pimpinan, kader, dan partisipan Muhammadiyah se-Jakarta Barat menjadikan Tarhib ini sebagai konsolidasi gerakan. Pembersihan hati menjadi kesadaran personal, pelurusan niat menjadi orientasi gerakan, dan produktivitas menjadi etos bersama.

Dari sinilah kekuatan negeri dibangun—bukan semata oleh kebijakan besar, tetapi oleh integritas warganya.

Ramadhan sebagai Momentum Peradaban

Ramadhan selalu menawarkan kemungkinan yang sama: memulai perubahan dari dalam.

Bukan sekadar menahan lapar, tetapi membersihkan hati.
Bukan sekadar memperbanyak ibadah, tetapi meluruskan niat.
Bukan sekadar mengurangi aktivitas, tetapi meningkatkan kualitas karya.

Tarhib di Masjid Al Isro itu memberi satu pesan tegas: memperbaiki bangsa harus dimulai dari revolusi batin.

Selebihnya, sejarah yang akan mencatat apakah puasa kita hanya menjadi ritual tahunan—atau benar-benar menjadi jalan lahirnya negeri yang kuat dan bermartabat. (*)

Penulis : Narmodo

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts