Kalideres, Jakarta Barat – 15 Maret 2026
Menghidupkan Spirit Teologi Al-Ma’un
Semangat kepedulian sosial yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah kembali diwujudkan melalui kegiatan buka puasa bersama dan santunan bagi anak-anak yang masih memerlukan bantuan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kalideres pada Ahad, 15 Maret 2026 di wilayah Kalideres, Jakarta Barat.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan teologi Al-Ma’un, yaitu semangat menolong kaum dhuafa dan anak-anak yang membutuhkan sebagaimana diajarkan dalam spirit dakwah sosial Muhammadiyah.
Acara yang berlangsung penuh kehangatan ini dihadiri oleh para kader Muhammadiyah, tokoh masyarakat, serta anak-anak penerima santunan yang berasal dari kalangan usia SD, SMP hingga SMA. Dalam kegiatan tersebut disalurkan santunan kepada 37 anak yang masih membutuhkan bantuan sebagai bentuk kepedulian sosial Muhammadiyah terhadap generasi muda.
Pesan Ketua PDM Jakarta Barat: Kader Harus Menjaga Lisan dan Menjalankan Keputusan Persyarikatan
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Barat, Dr. Ir. Narmodo, M.Ag, dalam sambutannya menyampaikan pesan penting kepada para kader Muhammadiyah agar senantiasa menjaga akhlak, salah satunya dengan menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menegaskan bahwa kader Muhammadiyah harus mampu menjadi teladan dalam sikap dan ucapan di tengah masyarakat. Selain itu, kader Muhammadiyah juga diharapkan konsisten menjalankan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan oleh persyarikatan.
Menurut beliau, ketetapan yang telah diputuskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, termasuk dalam hal penentuan awal Ramadhan maupun penentuan hari raya Idul Fitri, merupakan hasil ijtihad kolektif yang harus dihormati dan dijalankan bersama.
“Jika bukan para kader Muhammadiyah sendiri yang menjalankan keputusan persyarikatan, lalu siapa lagi yang akan menjalankannya,” ujar beliau menegaskan.
Ramadhan sebagai Momentum Reset Spiritual
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Narmodo juga mengingatkan bahwa ibadah Ramadhan tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana pendidikan spiritual bagi manusia.
Ia menjelaskan bahwa puasa, pengendalian hawa nafsu, dan memperbanyak istighfar merupakan tiga hal penting yang harus dijalankan selama Ramadhan. Ketiga hal tersebut, menurut beliau, merupakan proses untuk melakukan “reset spiritual”, sehingga manusia dapat kembali kepada fitrah kesuciannya sebagai hamba Allah.
Santunan untuk 37 Anak yang Membutuhkan
Sementara itu, Ketua PRM Kalideres, Agus, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan buka bersama ini merupakan bagian dari upaya memperkuat solidaritas sosial sekaligus menghidupkan nilai-nilai teologi Al-Ma’un dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut dilakukan pembagian santunan kepada 37 anak, yang terdiri dari anak-anak tingkat SD, SMP, hingga SMA, sebagai bentuk kepedulian Muhammadiyah terhadap anak-anak yang masih memerlukan bantuan.
“Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat ukhuwah sekaligus menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Tausiyah: Empat Golongan yang Dirindukan Surga
Menjelang waktu berbuka puasa, acara dilanjutkan dengan kultum Ramadhan yang disampaikan oleh Abdul Hamid. Dalam tausiyahnya ia menyampaikan bahwa terdapat empat golongan manusia yang dirindukan oleh surga.
Pertama, orang yang gemar membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an menjadi cahaya yang membimbing kehidupan manusia.
Kedua, orang yang menjaga lisannya, yakni mereka yang mampu menahan diri dari perkataan buruk, fitnah, maupun ucapan yang menyakiti orang lain.
Ketiga, orang yang memberi makan kepada orang yang lapar, sebagai bentuk kepedulian sosial yang sangat dicintai oleh Allah SWT.
Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, karena puasa merupakan ibadah istimewa yang mendidik manusia menuju ketakwaan.
Dakwah Sosial Muhammadiyah Terus Bergerak
Melalui kegiatan ini, PRM Kalideres menunjukkan bahwa gerakan Muhammadiyah di tingkat ranting terus hidup dan bergerak, tidak hanya dalam dakwah keagamaan, tetapi juga dalam aksi sosial kemanusiaan.
Semangat teologi Al-Ma’un yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan kembali dihidupkan melalui kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan, sehingga dakwah Muhammadiyah benar-benar hadir membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan berbuka puasa dalam suasana penuh kebersamaan, dengan harapan semangat berbagi dan kepedulian sosial ini terus tumbuh di tengah masyarakat. (Narmodo)



