Silaturahmi di Jakarta Barat menghadirkan pesan strategis: pembangunan tidak cukup dengan sistem dan teknologi, tetapi harus berpijak pada nilai, akhlak, dan pendidikan yang memerdekakan potensi anak.
Di tengah derasnya arus pembangunan yang kian teknokratis, sebuah pertanyaan mendasar mengemuka: apakah kita sedang membangun kota, atau sekadar mempercepat pertumbuhan tanpa arah?
Silaturahmi yang Melampaui Seremoni
Pertanyaan itu menemukan maknanya dalam sebuah silaturahmi halal bihalal di kediaman Dr. Ir. Narmodo, M.Ag., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat. Kehadiran Walikota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, S.Sos., M.Si., bersama jajaran pemerintahan dan tokoh masyarakat, menjadikan pertemuan ini lebih dari sekadar tradisi pasca-Ramadhan—ia menjadi ruang temu antara gagasan, nilai, dan arah pembangunan.
Turut hadir Sekretaris Kota Jakarta Barat Firmanudin Ibrahim, Asisten Pemerintahan Holi Susanto, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Abdurtrahman Anwar, Camat Kembangan Joko Suparno, Sekretaris Kecamatan Kembangan Raditian, Lurah Srengseng Adith Pratama, serta jajaran lainnya. Hadir pula Ketua RW 12 Susan Wiryamiharja dan Korwil Baznas (Bazis) Jakarta Barat Heru Nurwanto.
Dari Muhammadiyah, tampak Mardjuan Bakri, S.H. selaku Sekretaris PDM, Abdullah Faqih sebagai Bendahara PDM, Zaini sebagai Wakil Sekretaris PDM Jakarta Barat, Miftah Abdillah sebagai Ketua PCM Kembangan, Yahya Abdul Rasyid sebagai Bendahara PCM Kembangan, serta Riza Abar sebagai Sekretaris PCM Kembangan. Komposisi kehadiran ini mencerminkan satu hal: kolaborasi telah menjadi kebutuhan nyata, bukan sekadar wacana.
Walikota: Pembangunan Butuh Nilai
Dalam sambutannya, Walikota Jakarta Barat Iin Mutmainnah menegaskan bahwa kolaborasi antara umaro dan ulama, khususnya dengan Muhammadiyah, merupakan fondasi strategis dalam membangun Jakarta Barat yang tidak hanya maju, tetapi juga beradab.
“Pembangunan tidak cukup hanya dengan teknologi, kecakapan mengelola pemerintahan, organisasi, maupun perusahaan. Harus ada pembangunan adab dan akhlak. Di situlah letak pentingnya kolaborasi antara umaro dan ulama,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan semata pada percepatan pembangunan, melainkan pada kemampuan menjaga arah. Ketika nilai mulai terpinggirkan, maka kemajuan berisiko kehilangan makna.
“Ke depan, Jakarta Barat—sebagai bagian dari Indonesia—harus mampu menjawab tantangan zaman, tidak hanya dengan kecanggihan, tetapi juga dengan nilai,” lanjutnya.
Dalam kerangka itu, Muhammadiyah dipandang sebagai mitra strategis. Jaringan amal usaha yang luas menjadikannya kekuatan penting dalam membangun masyarakat berbasis nilai, sekaligus menjembatani kebijakan dengan realitas sosial.
Narmodo: Pendidikan Harus Memerdekakan
Sementara itu, Dr. Ir. Narmodo, M.Ag. menegaskan bahwa arah pembangunan manusia tidak bisa dilepaskan dari pembaruan paradigma pendidikan.
“Sudah saatnya pendidikan di Indonesia berbasis pada passion anak, bukan sekadar mengikuti keinginan orang tua,” tegasnya.
Ia menyoroti kenyataan bahwa banyak anak kehilangan potensi karena dipaksa berjalan di jalur yang bukan dirinya. Pendidikan yang tidak selaras dengan minat, pada akhirnya hanya melahirkan kepatuhan tanpa kreativitas.
“Ketika anak belajar sesuai minatnya, akan lahir kreativitas, ketekunan, dan daya tahan. Dari situlah muncul generasi yang siap menghadapi zaman,” tambahnya.
Gagasan ini memperkuat peran Muhammadiyah dalam pendidikan—tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
Kehangatan di Tengah Gagasan Besar
Di tengah suasana yang sarat gagasan strategis, hadir momen yang menghangatkan. Para hadirin memberikan kejutan berupa kue ulang tahun kepada Walikota Iin Mutmainnah.
Momen sederhana ini menjadi penyeimbang: bahwa di balik diskusi besar tentang arah pembangunan, tetap ada ruang untuk kehangatan, kebersamaan, dan penghargaan personal.
Menjaga Arah di Tengah Kemajuan
Pertemuan itu meninggalkan satu pesan penting: pembangunan tidak boleh kehilangan arah.
Kolaborasi antara umaro dan ulama akan menjaga dimensi nilai, sementara pendidikan berbasis passion akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki makna dalam setiap langkahnya.
Dari Jakarta Barat, sebuah pengingat kembali ditegaskan—bahwa kemajuan sejati bukan hanya tentang apa yang dibangun, tetapi tentang nilai yang menjaga arah dari pembangunan itu sendiri. (*)
