Silaturahim dan Ziarah Kubur: Hukum Islam, Adab, Etika, dan Pelajaran Kehidupan dari Perjalanan Semarang–Yogyakarta

siti hadirah

Silaturahim dan ziarah kubur adalah dua amalan yang, bila diletakkan pada tempatnya, akan menumbuhkan iman sekaligus memperhalus kemanusiaan. Keduanya bukan sekadar “tradisi sosial”, melainkan ibadah yang memiliki landasan syariat, adab, dan etika yang jelas. Apalagi ketika silaturahim itu dilakukan sambil berwisata keliling kota Semarang, menikmati keindahan ciptaan Allah, merenungi tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta menyaksikan kiprah Muhammadiyah dalam pendidikan dan kesehatan sebagai pembangunan manusia seutuhnya untuk bangsa dan negara.

1) Silaturahim dalam Hukum Islam: Sunnah Muakkadah yang Menguatkan Iman dan Masyarakat
Secara hukum, silaturahim adalah amalan yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah), bahkan menjadi bagian dari wujud ketaatan dan akhlak seorang Muslim. Allah memerintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan dan persaudaraan, serta melarang memutusnya. Nabi ﷺ juga menjelaskan keutamaan silaturahim bukan hanya pada dimensi ukhrawi, tetapi juga pada dampak sosial dan keberkahan hidup.

Di antara dalil yang paling masyhur adalah sabda Nabi ﷺ:

“مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (dipanjangkan pengaruh/jejak kebaikannya), maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Makna “memperpanjang umur” dipahami para ulama dalam dua penjelasan yang saling melengkapi: pertama, secara hakiki dalam makna keberkahan umur (umur terasa panjang karena produktif untuk kebaikan); kedua, “dipanjangkan jejaknya”, yakni nama baik, karya, dan pengaruh kebaikannya tetap hidup meski ia telah tiada.

Silaturahim juga terkait erat dengan kualitas iman. Nabi ﷺ menegaskan bahwa iman yang lurus harus tampak pada akhlak sosial: memuliakan tamu, menjaga lisan, menebar salam, dan mengokohkan persaudaraan.

2) Adab Silaturahim: Ikhlas, Menjaga Lisan, dan Membawa Kebahagiaan
Silaturahim yang bernilai ibadah bukan sekadar “bertemu”, tetapi pertemuan yang dirawat dengan adab.

Pertama, niat yang ikhlas. Kaidahnya sederhana namun menentukan: “إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ” — “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Silaturahim menjadi tinggi nilainya ketika dilakukan karena Allah: menyambung persaudaraan, menguatkan hati, mendoakan kebaikan, dan menebar manfaat.

Kedua, menjaga lisan dan hati. Silaturahim yang rusak sering bukan karena jarak, tetapi karena kata-kata: ghibah, sindiran, merendahkan, atau membuka aib. Karena itu etika utama silaturahim adalah menghadirkan rasa aman: orang pulang dari pertemuan bukan membawa beban baru, melainkan membawa lapang dada.

Ketiga, memberi kebahagiaan dan saling berbagi. Memberi bukan selalu materi; bisa berupa perhatian, doa tulus, mendengarkan, atau membantu solusi. Rasulullah ﷺ mengajarkan kebaikan yang membangun suasana hangat di tengah umat: menebar salam dan memuliakan tamu, serta “menguatkan tali” tanpa syarat pamrih pribadi.

3) Ziarah Kubur dalam Hukum Islam: Sunnah untuk Mengingat Akhirat dan Mendoakan
Ziarah kubur dalam Islam pada asalnya disyariatkan. Nabi ﷺ bersabda:

“كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ”
“Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ziarah itu mengingatkan akhirat.” (HR. Muslim)

Ziarah menjadi ibadah bila tujuan dan caranya benar: mengingat kematian, melembutkan hati, menumbuhkan kesadaran tentang sementara-nya dunia, serta mendoakan mayit. Ziarah bukan tempat “meminta” kepada yang sudah wafat, melainkan tempat “mengingat” dan “mendoakan”.

Tentang ziarah bagi perempuan, ada perbedaan pendapat yang dikenal dalam fikih. Banyak ulama membolehkannya dengan syarat adab terjaga (tidak meratap, tidak tabarruj, tidak menimbulkan fitnah, dan menjaga ketenangan), sementara yang melarang biasanya menekankan larangan jika dilakukan berlebihan atau disertai hal yang dilarang. Prinsip kehati-hatian: menjaga adab, tujuan yang benar, dan menghindari segala yang menyelisihi tuntunan.

4) Adab Ziarah Kubur: Salam, Doa, dan Menjaga Tauhid
Adab ziarah kubur yang diajarkan Nabi ﷺ antara lain memberi salam dan mendoakan. Salah satu doa yang masyhur:

“السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ…”
“Salam sejahtera atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin…” (HR. Muslim)

Etika penting lainnya adalah menjaga kesopanan: tidak duduk atau melangkahi kubur, tidak mengeraskan suara, tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ritual yang tidak diajarkan, serta menjaga kemurnian tauhid. Kita datang untuk mendoakan, bukan menggantungkan harapan kepada selain Allah.

Ziarah juga selaras dengan pesan Nabi ﷺ agar sering mengingat kematian: “أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ” — “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. at-Tirmidzi). Ingatan itu bukan untuk melemahkan hidup, tetapi untuk meluruskan arah hidup.

5) Wisata yang Menjadi Tadabbur: Semarang sebagai “Kelas Terbuka” Ayat Kauniyyah
Dalam perjalanan silaturahim yang dibingkai wisata keliling Kota Semarang, kita menyaksikan kota bukan hanya sebagai ruang estetika, tetapi juga sebagai “kelas terbuka” untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat kauniyyah). Allah memuji orang-orang yang bertafakkur atas ciptaan-Nya:

“إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ… لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ”
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi… terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190–191)

Pantai Marina, misalnya, menghadirkan pelajaran tentang keindahan yang Allah hamparkan, dan tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap sebagai khalifah: menikmati tanpa merusak, mengelola tanpa menzalimi. Ketika kita melihat pantai yang direklamasi dan dampak reklamasi yang “ternyata hanya memindahkan air ke tempat lain”, di situ ada pelajaran etika pembangunan: setiap kebijakan ruang dan lingkungan punya konsekuensi; masalah yang tidak diselesaikan dengan benar sering hanya berpindah lokasi, bukan hilang. Ini sejalan dengan peringatan Al-Qur’an:

“وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا”
“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. al-A‘raf: 56)

Juga:

“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ”
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia.” (QS. ar-Rum: 41)

Maka wisata yang cerdas adalah wisata yang menambah syukur, menambah kesadaran, lalu melahirkan tanggung jawab.

6) Muhammadiyah: Pendidikan dan Kesehatan sebagai Amal Shalih untuk Bangsa
Dalam perjalanan itu, tampak jelas bahwa pendidikan yang dilakukan Muhammadiyah merupakan bagian dari pembangunan manusia seutuhnya. Amal usaha pendidikan membentuk akal, karakter, dan etos kerja; amal usaha kesehatan menyehatkan masyarakat; keduanya adalah fondasi kekuatan bangsa dan negara. Ini selaras dengan semangat maslahat: agama tidak hanya mengurus ritual, tetapi juga menumbuhkan peradaban yang berkeadilan dan berkemajuan.

Kisah yang menarik disampaikan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Prof. Djamaludin Darwis, bahwa pembangunan perguruan tinggi tersebut bernilai mendekati 1 triliun namun dilakukan tanpa harus melalui pinjaman bank, dilakukan tanpa korupsi. Ini bukan sekadar cerita sukses manajerial; ini teladan moral: amanah, integritas, dan kerja kolektif yang bersih bisa melahirkan hasil besar. Al-Qur’an menegaskan prinsip keadilan dan larangan memakan harta dengan cara batil:

“وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ”
“Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil.” (QS. al-Baqarah: 188)

Dan:

“إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ”
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan.” (QS. an-Nahl: 90)

Di sinilah “amal tanpa pamrih pribadi” menemukan maknanya: bekerja besar, tetapi hati tetap kecil di hadapan Allah; berkarya luas, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai ladang keuntungan diri.

7) Ziarah yang Mengikat Memori dan Mendidik Hati
Ziarah yang dilakukan—ke makam dr. Mualif (suami dari Ibu Adibah) kader Muhammadiyah di Khusnul Khatimah Semarang, dan ziarah ke makam Ibu Siti Hadiroh cicit KH Ahmad Dahlan di pemakaman Khusnul Khatimah Sentolo Yogyakarta—mengajarkan satu hal yang sering terlupa: orang baik tidak berhenti memberi manfaat ketika wafat, sebab jejaknya tetap menjadi pelajaran.

Di makam, kita belajar merendah. Kita diingatkan: sehebat apa pun seseorang, ujungnya sama: kembali kepada Allah. Tetapi pada saat yang sama, kita juga diingatkan: yang membedakan manusia bukan lamanya hidup, melainkan kualitas amal, ketulusan, dan manfaatnya.

Ziarah yang benar juga menguatkan rasa syukur: bahwa kita masih diberi waktu untuk memperbaiki diri. Ia menjadi semacam “rem spiritual” agar perjalanan hidup tidak liar dan sombong.

8) Jamuan Keluarga: Mbak Wid, Romo Ahmad, dan Kenangan yang Menguatkan Ukhuwah
Silaturahim sering menemukan puncaknya pada momen yang tampak sederhana namun sangat dalam: duduk bersama, makan bersama, dan saling mendoakan. Makan khas Yogya yang disajikan oleh Mbak Wid dan Romo Ahmad bersama keluarga besarnya bukan hanya soal menu, tetapi soal rasa: rasa diterima, rasa disambut, rasa “pulang” dalam arti persaudaraan.

Di sinilah etika sosial Islam menjadi nyata: memuliakan tamu, menebar hangat, dan membuat orang lain pulang membawa kenangan indah. Kenangan seperti ini tidak selalu bisa diulang dengan kondisi yang sama, sehingga wajar bila ia menjadi pemantik untuk “ingin segera kumpul reunian kembali”.

9) Apa yang Bisa Diambil dari Silaturahim dan Ziarah Ini?
Pertama, iman menjadi lebih “membumi”: bukan hanya di sajadah, tetapi juga di jalanan kota, di pantai, di kampus, di rumah keluarga, dan di pemakaman.

Kedua, lahir kesadaran etika pembangunan: melihat reklamasi dan dampaknya mengingatkan bahwa kebijakan publik harus berorientasi kemaslahatan jangka panjang, bukan solusi semu yang memindahkan masalah.

Ketiga, teladan integritas Muhammadiyah menjadi energi moral: membangun besar tanpa korupsi dan tanpa pamrih pribadi itu mungkin, asal amanah dijaga dan niat diluruskan.

Keempat, ziarah melembutkan hati dan menguatkan orientasi akhirat: hidup bukan sekadar “berjalan”, tetapi “berpulang”. Maka yang paling cerdas adalah yang mempersiapkan pulang dengan amal terbaik.

Kelima, silaturahim menambah keberkahan: memperpanjang umur dalam makna keberkahan, meluaskan rezeki dalam makna jalan-jalan kebaikan yang dibukakan Allah, dan menambah kebahagiaan karena manusia pada dasarnya dikuatkan oleh hubungan yang hangat dan saling mendoakan.

Penutup
Silaturahim dan ziarah kubur, bila dilakukan dengan tuntunan syariat dan adab, akan menjadi dua sayap yang menyeimbangkan hidup: satu sayap menguatkan hubungan antarmanusia, satu sayap menguatkan hubungan dengan akhirat. Semarang dan Yogyakarta menjadi saksi bahwa perjalanan bisa menjadi ibadah, wisata bisa menjadi tadabbur, dan pertemuan bisa menjadi penguat peradaban—selama niat dijaga, akhlak dipelihara, dan tauhid ditegakkan.

Semoga Allah menerima silaturahim ini sebagai amal shalih, mengampuni para pendahulu yang diziarahi, melapangkan kubur mereka, serta meneguhkan kita untuk terus menebar manfaat bagi umat, bangsa, dan negara. (Nar)

 

Exit mobile version